1 provonsi dan 2 kabupaten telah terkena penyakit sindromseleb, terbukti ketenaran kegantengan menjadi modal utama dalam berkampanye untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.. ironisnya menurut survey mayoritas suara mereka berasal dari penikmati televisi, ya tentu penikmat dunia hiburan, baik sinetron, lawakan, iklan dan lain sebagainya.
semua itu terjadi dikarenakan masyarakat pemilih terpaku dan terpana dengan gaya dan prilaku seleb di televisi bukan pada karakter yang sesungguhnya, entah siapa yang salah guru ngaji kah, orang tua kah sehingga banyak sekali warga apa lagi yang berstatus muslim berlaku bodoh dimana begitu histeris ketika melihat dan bertemu seleb, tetapi begitu cuek dan acuh tak acuh ketika dipanggil orang tua bahkan ketika suara azdan memangilnya untuk sholat, sangat ironis sekali bukan?
bisa kita lihat dan pandang di berbagai arena baik di lapangan, jalanjalan, gedung-gedung bahkan depan perumahan sekalipun tak lupa dari yang namanya spanduk sindromseleb, dimana para pelaku politikpun tergerak untuk mengikuti jejak sang seleb demi mendrongkrak popularitas, padahal yang dibutuhkan masyarakat sesungguhnya bukan spanduk dan bendera partai yang besar dan berkibar di hutan, trotoar dan atas pohon tetapi bentuk nyata dari kepedulian, seperti menjadi pengayom minimal bagi masyarakat sekitar, (tetangga dan lingkungan).