HUKUM, HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

A. Konsep Hukum Islam

1. Pengertian Hukum Islam

Hukum adalah kumpulan-kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi.

Ciri-ciri Hukum:

  1. Adanya perintah dan atau larangan
  2. Perintah dan atau larangan itu harus patuh ditaati oleh setiap orang

Sedangkan hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang kini terdapat dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya melalui Sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadits.

Amir Syarifuddin mengatakan bahwa hukum Islam bermakna seperangkat peraturan yang berdasarkan wahyu Allah dan Sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku dan mengikat untuk semua umat yang beragama Islam. Hukum Islam ini mencakup hukum syariah dan hukum fiqih.

Hukum syari’ah merupakan hukum yang sesuai dengan segala zaman dan tidak berubah, yakni ajaran Allah yang kebenarannya bersifat mutlak dan telah lengkap serta sempurna. Sedangkan hukum fqih adalah hukum yang dapat berubah dan disesuaikan dengan perkembangan dan perubahan zaman, sebagai hasil ijtihad dan interpretasi manusia (mujtahid) terhadap hukum-hukum yang zanni.

Terdapat perbedaan pendapat antara ulama ushul fiqh dan ulama fiqh dalam memberikan pengertian hukum syar’i karena berbedanya sisi pandang mereka. Ulama fiqh berpendapat bahwa hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh tuntutan yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Sedangkan ulama ushul fiqh mengatakan bahwa yang disebut hukum adalah dalil itu sendiri.

Mereka membagi hukum tersebut kepada dua bagian besar yaitu hukum taklifi dan hukumwadh’i. Hukum taklifi berbentuk tuntutan dan pilihan yang disebut dengan wajib, sunnnat, haram, makruh dan mubah. Dan hukum wadh’i terbagi kepada lima macam yaitu sabab, syarat, mani’, shah dan bathal.

MasyarakatIndonesiadisamping memakai istilah hukum Islam juga menggunakan istilah lain seperti syari’at Islam, atau fiqh Islam. Istilah-istilah tersebut mempunyai persamaan dan perbedaan. Syari’at Islam sering dipergunakan untuk ilmu syari’at dan fiqh Islam dipergunakan istilah hukum fiqh atau kadang-kadang hukum Islam, yang jelas antara yang satu dengan yang lain saling terkait. Baik dalam pengertian syari’at maupun fiqh, hukum Islam dapat dibagi kepada dua bagian besar yaitu bidang ibadah dalam pengertian yang khusus dan ibadah dalam pengertian yang umum.

2. Tujuan Hukum Islam

a. Tujuan secara umum

  1. Untuk mengatur segala aspek kehidupan umat Islam agar sesuai dengan ketentuan yang telah disyari’atkan Allah beserta sunnah-sunnah Rasul-Nya
  2. Untuk menjadi panutan bagi umat manusia dalam mengatur hubungan dengan Tuhan, dengan saudara seagama, dengan saudaranya sesama manusia dan alam semesta, dengan tetap mengakomodir tuntutan perkembangan dan perubahan yang ada.

b. Tujuan secara khusus

  1. Menjaga dan melindungi enam asasi manusia: agama, jiwa, akal harta benda, keturunan, kehormatan.
  2. Membangun ketatatertiban manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan alam lingkungannya
  3. Menegakkan kemaslahatan menghilangkan kemafsadatan
  4. Menghilangkan kesulitan dan kesempitan
  5. Menyeimbangkan kepentingan individu dan masyarakat
  6. Menegakkan nilai kemasyarakatan

3. Istilah-istilah yang Berkaitan dengan Hukum Islam

  1. Syari’ah adalah hukum-hukum dan tata aturan yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya untuk diikuti yang isinya mengatur tentang hubungan dengan Tuhan, sesame manusia dan alam semesta.
  2. Fiqih adalah daya upaya manusia dalam memahami dan menginterpretasikan ajaran wahyu atau hukum syara’ yang terdapat dalam al-Qur’an maupun sunnah.
  3. Hukum syara’ adalah merujuk kepada satuan norma atau kaidah. Himpunan norma-norma atau hukum-hukum syara’ ini membentuk fiqih. Misalnya hukum taklifi dan wad’iy
  4. Qanun adalah menggambarkan bagian dari syari’ah yang telah diintegrasikan oleh suatu pemerintah menjadi hukum Negara. Misalnya hukum perkawinan (UU No. 1 tahun 1974), hukum wakaf (UU No. 14 tahun 2004), dan lain-lain.

4. Prinsip-Prinsip Hukum Islam

  1. Keadilan
  2. Persamaan
  3. Kebebasan

B. Hak Asasi Manusia Menurut Islam.

Hak Asasi Manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang melekat pada diri manusia semenjak ia berada dalam kandungan sampai meninggal dunia yang harus mendapat perlindungan. Istilah HAM menurut Tolchach Mansoer mulai populer sejak lahirnyaDeclaration of Human Rights pada tanggal 10 Desember 1948. Walaupun ide HAM sudah timbul pada abad ke 17 dan ke 18 sebagai reaksi terhadap keabsolutan raja-raja dan kaum feodal di zaman itu. Ide hak asasi manusia juga terdapat dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dalam ajaran tauhid. Ada perbedaan prinsip antara hak-hak asasi manusia dilihat dari sudut pandangan Barat dan Islam. Hak asasi manusia menurut pemikiran Barat semata-mata bersifat antroposentris artinya segala sesuatu berpusat kepada manusia. Dengan demikian manusia sangat dipentingkan. Sedangkan dalam Islam hak-hak asasi manusia bersifat teosentris artinya segala sesuatu berpusat pada Tuhan. Dengan demikian Tuhan sangat dipentingkan. Dalam hubungan ini A.K Brohi menyatakan: “Berbeda dengan pendekatan Barat”, strategi Islam sangat mementingkan penghargaan kepada hak-hak asasi dan kemerdekaan dasar manusia sebagai sebuah aspek kualitas dari kesadaran keagamaan yang terpatri di dalam hati, pikiran dan jiwa penganut-penganutnya. Perspekitf Islam sungguh-sungguh bersifat teosentris.

Pemikiran barat menempatkan manusia pada posisi bahwa manusialah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu, maka di dalam Islam melalui firman-Nya, Allahlah yang menjadi tolok ukur sesuatu, sedangkan manusia adalah ciptaan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.

Oleh karena itu dalam Islam hak-hak asasi manusia tidak hanya menekankan kepada hak-hak manusia saja, tetapi hak-hak itu dilandasi oleh kewajiban asasi untuk mengabdi hanya kepada Allah sebagai penciptanya. Aspek khas dalam konsep HAM Islami adalah tidak adanya orang lain yang dapat mema’afkan pelanggaran hak-hak jika pelanggaran itu terjadi atas seseorang yang harus dipenuhi haknya. Bahkan suatu negara Islam pun tidak dapat mema’afkan pelanggaran hak-hak yang dimiliki seseorang. Negara harus terikat memberikan hukuman kepada pelanggar HAM dan memberikan bantuan kepada pihak yang dilanggar HAM nya, kecuali pihak yang dilanggar HAM nya telah mema’afkan pelanggar HAM tersebut.

Prinsip-prinsip HAM yang tercantum dalam Universal Declaration of Human Rightsdiungkap dalam berbagai ayat antara lain :

1. Martabat manusia.

Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa manusia mempunyai kedudukan atau martabat yang tinggi. Kemulian martabat yang dimiliki manusia itu sama sekali tidak ada pada makhluk lain. Martabat yang tinggi yang dianugerahkan Allah kepada manusia, pada hakekatnya merupakan fitrah yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia.

Q.S Al Isra’ (17) ayat 70. Artinya : “ Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan…”

Q.S Al Maidah (5) ayat 32. Artinya : “ …Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya…”

Mengenai martabat manusia ini telah digariskan dalam Universal declaration of Human Rights dalam Pasal 1 dan Pasal 3.

Pasal 1 menyebutkan, ”Semua makhluk manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai hak-hak serta maratabat yang sama …” dan Pasal 3 menyebutkan, “ Setiap orang berhak untuk hidup, berhak akan kemerdekaan dan jaminan pribadi.”

2. Persamaan

Pada dasarnya semua manusia sama, karena semuanya adalah hamba Allah. Hanya satu ukuran yang dapat membuat seseorang lebih tinggi derajatnya dari yang lain, yakni ketaqwaannya.

Q.S Al Hujurat (49) ayat 13. Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orangyang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Prinsip persamaan ini dalam Universal Declaration of Human Rights terdapat dalam Pasal 6 dan Pasal 7. Pasal 6 menyebutkan, “Setiap orang berhak mendapat pengakuan di mana saja sebagai seorang pribadi di muka hukum.”

Dan Pasal 7 menyebutkan, “Semua orang sama di muka hukum dan berhak atas perlindungan yang sama di muka hukum tanpa perbedaan…”

3. Kebebasan menyatakan pendapat

Al Qur’an memerintahkan kepada manusia agar berani menggunakan akal pikiran mereka terutama untuk menyatakan pendapat mereka yang benar. Perintah ini secara khusus ditujukan kepada manusia yang beriman agar berani menyatakan kebenaran. Agama Islam sangat menghargai akal pikiran., Oleh karena itu, setiap manusia sesuai dengan martabat dan fitrahnya sebagai makhluk yang berfikir mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya dengan bebas, asal tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan dapat dipertanggungjawabkan.

Q.S Ali Imran (3) ayat 110. Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”

Hak untuk menyatakan pendapat dengan bebas dinyatakan dalam Universal Declaration of Human Rights Pasal 19 “Semua orang berhak atas kemerdekaan mempunyai dan melahirkan pendapat…”

4. Kebebasan beragama.

Prinsip kebebasan beragama ini dengan jelas disebutkan dalam Al Qur’an suratAl Baqarah (2) ayat 256. Artinya : “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam…” Dan Q.S Al Kafirun (109) ayat 6. Artinya : “Untukmulah agamamu dan utntukkulah agamaku.”

Dari ayat-ayat tersebut dapat dipahami bahwa agama Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama. Hal ini sejalan dengan Pasal 18 dari Universal Declaration of Human Rights, yang menyatakan “Setiap orang mempunyai hak untuk merdeka berfikir, berperasaan, dan beragama …”

5. Hak jaminan sosial.

Di dalam Al Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang menjamin tingkat dan kualitas hidup bagi seluruh masyarakat. Ajaran tersebut antara lain adalah kehidupan fakir miskin harus diperhatikan oleh masyarakat, terutama oleh mereka yang punya. Kekayaan tidak boleh dinikmati dan hanya berputar di antara orang-orang yang kaya saja. Seperti dinyatakan Allah dalam Al Qur’an suratAz-Zariyat (51) ayat 19. Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”

Q.S Al Ma’arij (70) ayat 24. Artinya : “ Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu.”

Dalam Al Qur’an juga disebutkan dengan jelas perintah bagi umat Islam untuk menunaikan zakat. Tujuan zakat antara lain adalah untuk melenyapkan kemiskinan dan menciptakan pemerataan pendapatan bagi segenap anggota masyarakat. Apabila jaminan sosial yang ada dalam Al Qur’an diperhatikan dengan jelas sesuai dengan Pasal 22 dari Universal Declaration of Human Rights, yang menyebutkan “Sebagai anggota masyarakat, setiap orang mempunyai hak atas jaminan sosial…”

6. Hak atas harta benda.

Dalam hukum Islam hak milik seseorang sangat dijunjung tinggi. Sesuai dengan harkat dan martabat, jaminan dan perlindungan terhadap milik seseorang merupakan kewajiban penguasa. Oleh karena itu, siapapun juga bahkan penguasa sekalipun, tidak diperbolehkan merampas hak milik orang lain, kecuali untuk kepentingan umum, menurut tatacara yang telah ditentukan lebih dahulu. Allah telah memberikan sanksi yang berat terhadap mereka yang telah merampas hak orang lain, sebagaimana dinyatakan dalam suratAl Maidah (5) ayat 38. Artinya : “Laki-laki yang mecuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah …”

Hal ini sesuai dengan Pasal 17 dari Universal Declaration of Human Rights menyebutkan,ayat (1) setiap orang berhak mempunyai hak milik, baik sendiri maupun bersama orang lain. Ayat (2) Tidak seorangpun hak miliknya boleh dirampas dengan sewenang-wenang.

Dalam rangka memperingati abad ke 15 H, pada tanggal 21 Dzulkaidah atau 19 September 1981 para ahli hukum Islam mengemukakan Universal Islamic Declaration of Human Rights yang diangkat dari Al Qur’ an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Pernyataan HAM menurut ajaran Islam ini terdiri XXIII Bab dan 63 pasal yang meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia. Beberapa hal pokok yang disebutkan dalam deklarasi tersebut antara lain adalah :

1. Hak untuk hidup.

2. Hak untuk mendapatkan kebebasan.

3. Hak atas persamaan dan kedudukan.

4. Hak untuk mendapatkan keadilan.

5. Hak untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyalahgunaan kekuasaan

6. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari penyiksaan.

7. Hak untuk mendapatkan perlindungan atas kehormatan dan nama baik.

8. Hak untuk bebas berfikir dan berbicara.

9. Hak untuk bebas memilih agama.

10. Hak untuk bebas berkumpul dan bergaul.

11. Hak untuk mengatur tata kehidupan ekonomi.

12. Hak atas jaminan social.

13. Hak untuk bebas mempunyai keluarga dan segala sesuatu yang berkaitan dengan nya.

14. Hak-hak bagi wanita dalam kehidupan rumah tangga.

15. Hak untuk mendapatkan pendidikan dan sebagainya.

C. Demokrasi dalam Islam

Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, Demos berarti rakyat, dan kratein bermakna kekuasaan. Karena kekuasaan itu ada di rakyat, maka rakyatlah yang berdaulat, oleh karena itu demokrasi diartikan dengan kedaulatan rakyat.

Kedaulatan mutlak dan Keesaan Tuhan yang terkandung dalam konsep tauhid dan peranan manusia yang terkandung dalam konsep khilafah memberikan kerangka yang dengannya para cendekiawan belakangan ini mengembangkan teori politik tertentu yang dapat dianggap demokratis. Di dalamnya tercakup definisi khusus dan pengakuan terhadap kadaulatan rakyat, tekanan pada kesamaan derajat manusia, dan kewajiban rakyat sebagai pengemban pemerintah.

Penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka konseptual Islam, banyak memberikan perhatian pada beberapa aspek khusus dari ranah social dan politik. Demokrasi Islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep Islami yang sudah lama berurat berakar yaitu musyawarah (syura), persetujuan (ijma’) dan penilaian interpretative yang mandiri (ijtihad).

Demokrasi itu sendiri bisa bisa lahir dan ada dari masarakat yang memiliki tiga keadaan yaitu:

  1. Keadilan
  2. Persamaan
  3. Kebebasan

D. Musyawarah dalam Islam

Secara bahasa musyawarah diambil dari kata syura (Arab) yang memiliki empat makna:

  1. Memeras madu dari sarang lilinnya
  2. Meneliti fisik hewan ternak ketika jual beli
  3. Mengajukan diri untuk turut tampil dalammedanperang
  4. Meminta pendapat dan pembahasan tentang yang benar

Secara epistimologi musyawarah bermakna meminta pendapat dari para pakar tentang suatu perkara untuk menghasilkan suatu keputusan yang lebih mendekatkan kepada kebenaran. Adakalanya ia bermakna meminta pendapat umat atau yang mewakilinya dalam perkara-perkara public, atau yang berkenaan dengan mereka.

Masalah musyawarah ini dengan jelas disebutkan dalam Al Qur’an suratAli Imran (3) ayat 159. Artinya : “ …Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” Dan surat Asy Syura (42) ayat 38. Artinya : “Dan bagi orang-orang yang menerima seruan Tuhannya dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah antara mereka …”

Berdasarkan ayat di atas jelaslah bahwa perintah kepada para pemimpin dalam kedudukan apa pun untuk menyelesaikan urusan mereka yang dipimpinnya dengan cara bermusyawarah. Dengan demikian, tidak akan terjadi kesewenang-wenangan dari seorang pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya. Oleh karena itu, ”Perwakilan rakyat” dalam sebuah negara Islam tercermin terutama dalam doktrin musyawarah (syura). Dalam bidang politik, umat Islam mendelegasikan kekuasaan mereka kepada penguasa dan pendapat mereka harus diperhatikan dalam menangani masalah negara.

Rasulullah SAW bersabda: “Kalaulah saya hendak menyuruh seseorang tanpa musyawarah antara mereka sudah pasti saya memilih Ibnu Ummi “abiding (Abdullah bin Mas’ud). (HR. Al-Hakim).

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah dan tidak rugi orang istikharah”.

Di samping musyawarah ada hal lain yang sangat penting dalam masalah demokrasi, yakni konsensus atau ijma’. Konsensus memainkan peranan yang sangat menentukan dalam perkembangan hukum Islam dan memberikan sumbangan sangat besar pada tafsir hukum. Namun hampir sepanjang sejarah Islam konsensus sebagai salah satu sumber hukum Islam cenderung dibatasi pada konsensus para cendikiawan, sedangkan konsensus rakyat kebanyakan mempunyai makna yang kurang begitu penting dalam kehidupan umat Islam.

Namun dalam pemikiran muslim modern, potensi fleksibilitas yang terkandung dalam konsep konsensus akhirnya mendapat saluran yang lebih besar untuk mengembangkan hukum Islam dan menyesuaikannya dengan kondisi yang terus berubah. Dalam pengertian yang lebih luas, konsensus dan musyawarah sering dipandang sebagai landasan yang efektif bagi demokrasi Islam modern. Konsep konsensus memberikan dasar bagi penerimaan sistem yang mengakui suara mayoritas.

Selain musyawarah (syura) dan ijma’ (konsensus) ada konsep yang sangat penting dalam proses demokrasi Islam, yakni ijtihad. Bagi para pemikir muslim, upaya ini merupakan langkah kunci menuju penerapan perintah Tuhan di suatu tempat atau waktu. Musyawarah, konsensus dan ijtihad merupakan konsep-konsep yang sangat penting bagi artikulasi demokrasi demokrasi Islam dalam rangka Keesaan Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia sebagai khalifah-Nya. Meskipun istilah-istilah ini banyak diperdebatkan maknanya, namun lepas dari ramianya perdebatan maknanya di dunia Islam, istilah-istlah ini memberi landasan yang efektif untuk memahami hubungan antara Islam dan demokrasi di dunia kontemporer.

E. Tindak Pidana dalam Islam (Jinayat).

1. Pembunuhan

Membunuh artinya melenyapkan nyawa seseorang, baik dengan sengaja maupun tidak, dengan menggunakan alat yang dapat mematikan ataupun tidak mematikan. Membunuh merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam, karena Islam menghormati dan melindungi hak hidup setiap orang. Allah melarang melakukan pembunuhan tanpa alasan yang benar.

Jenis Pembunuhan

Dilihat dari unsur niat dan alat, pembunuhan dapat dibagi tiga bagian :

  1. Pembunuhan yang disengaja, yaitu pembunuhan yang direncanakan dengan menggunakan alat. Seseorang dapat dikatakan membunuh dengan sengaja, apabila terpenuhi unsur-unsur balig yaitu pembunuh bukan anakanak, mempunyai niat atau rencana untuk membunuh, dengan menggunakan alat yang biasa digunakan untuk membunuh.
  2. Pembunuhan seperti sengaja, yaitu pembunuhan yang dilakukan seseorang dengan alat yang tidak mematikan, misalnya seseorang memukul dengan mistar ternyata yang dipukul meninggal dunia.
  3. Pembunuhan yang tidak disengaja, yaitu pembunuhan terjadi semata-mata karena kesalahan misalnya menembak burung,ternyata mengenai orang , dan orang itu meninggal dunia.

Jenis hukuman

a.Qishas

Qishas yaitu mengambil pembalasan yang sama terhadap perbuatan pembunuhan, perusakan anggota badan atau menghilangkan manfaat anggota badan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan.

Dasar hukum qishas tercantum dalam Al Qur’an suratAl Maidah (5) ayat 45. Artinya: “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga , gigi dengan gigi, dan luka-lukapun ada qishasnya…”

Qishas dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Qishas jiwa, yakni hukuman mati bagi pelaku tindak pidan pembunuhan yang disengaja.
  2. Qishas anggota badan, yakni menghukum si pelaku tindak pidana sesuai dengan apa yang ia lakukan. Untuk melaksankan qishas disyaratkan adanya ketentuan sebagai berikut:
  1. Orang yang terbunuh terpelihara darahnya. Artinya bukan orang jahat, bukan penzina, bukan orang murtad dan bukan pula orang kafir. Membunuh orang kafir, murtad, jahat dan penzina tidak dikenakan qishas.
  2. Pembunuhnya sudah balig dan berakal.
  3. Pembunuh bukan bapak dari yang terbunuh. Tidak wajib qishas bagi seorang bapak yang membunuh anaknya, akan tetapi wajib qishas bagi seorang anak yang membunuh bapaknya.
  4. Orang yang dibunuh sama derajatnya, artinya sama-sama muslim, sama-sama merdeka, sama-sama laki-laki/ perempuan dan atau samasama budak.
  5. Qishas dilakukan pada hal yang sama, artinya harus seimbang, jiwa dengan jiwa, hidung dengan hidung, mata dengan mata, kaki dengan kaki dan seterusnya.

b. Diyat

Diyat adalah sejumlah harta yang wajib diberikan oleh pembunuh kepada pihak yang terbunuh. Diyat ditetapkan karena 3 hal, yaitu :

  1. Pembunuh dimaafkan oleh keluarga terbunuh.
  2. Pelaku pembunuhan melarikan diri dan tidak diketahui berada dimana (diyat dipikul oleh keluarganya).
  3. Sukar untuk melaksanakan qishas.

c. Kifarat

Kalau diyat merupakan jenis denda sebagai tanda penyelesaian dan atau belasungkawa terhadap keluarga korban, maka kifarat merupakan jenis denda sebagai tanda taubat kepada Allah SWT.

Kifarat bagi si pembunuh adalah memerdekakan hamba sahaya yang beriman, apabila tidak mampu, ia wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut.

2. Pencurian

Mencuri adalah mengambil barang milik orang lain tanpa diketahui oleh pemiliknya. Mencuri di samping sebagai perbuatan dosa, juga merupakan tindak pidana yang harus dijatuhi hukuman. Penegasan hukuman bagi pencuri sebagai berikut :

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri hendaklah dipotong tangannya, sebagai balasan…” (Q.S Al Maidah (5) ayat 38).

Jumlah harta curian yang patut dikenakan hukuman menurut Mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali adalah 3 dirham atau sebanding dengan emas 3,34 gram.

3. Perampokan

Merampok adalah mengambil harta orang lain yang bukan miliknya dengan paksaan atau kekerasan. Hukuman bagi perampok didasarkan pada firman AllahsuratAl Maidah (5) ayat 33, sebagai berikut :

  1. Jika perampok mengambil harta dan membunuh pemiliknya, maka hukumannya dibunuh kemudian disalib.
  2. Jika perampok itu hanya membunuh saja, maka hukumannya adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilang.
  3. Jika perampok itu tidak sempat mengambil harta dan tidak sempat pula membunuh karena tertangkap , maka hukumannya adalah dibuang ke luar negeri.

4. Peminum khamar

Khamar adalah sejenis minuman keras, biasanya terbuat dari anggur yang memabukkan, atau dapat juga berupa barang yang dimakan, dihisap, atau disuntikkan. Adapun hukuman bagi peminum khamar adalah dicambuk 40 kali cambuk. Sebagaimana Sabda Nabi SAW: ”Anas dan Malik menceritakan bahwa dihadapan Nabi ada seorang yang telah meminum khamar; maka Nabi mncambuknya dengan dua tangkai pelepah kurma sekitar 40 kali…”(H.R Muttafaqun ‘Alaihi).

5.Perzinaan

Perzinaan merupakan tindak pidana yang paling keras hukumannya. Hal ini didasarkan kepada Al Qur’an suratAn Nur ayat 2. Artinya: ”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina masing-masing didera 100 kali dera. Janganlah kamu belas kasihan terhadap mereka berdua dalam menjalankan agama Allah. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman itu disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”.

Berdasarkan ayat di atas hukuman terhadap pelaku zina didera 100 kali, yang pelaksanaannya disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

6. Qadzaf (Tuduhan Berzina)

Qadzaf adalah menuduh perempuan yang baik berzina. Qadzaf termasuk dosa besar dan diancam dengan hukuman, sebagaimana dalam Al Qur’an surat An Nur ayat 23. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh perempuan yang baikbaik berbuat lengah (berzina) padahal mereka beriman, maka mereka kena laknat di dunia dan akhirat. Dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar”.

Bagi pelaku qadzaf dihukum cambuk sebanyak 80 kali. Hal ini didasarkan pada Al Qur’an surat An Nur ayat 4. Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik berbuat zina sedangkan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, makaderalah mereka sebanyak delapan puluh kali dera”.